Kamis, 23 April 2015

Persembahan pada Wong Samar dengan Tradisi Ngerebeg



Bali merupakan daerah yang tidak bisa dilepaskan dari suatu keyakinan dan kepercayaan serta tradisi-tradisi yang dianggap suatu mitos bagi masyarakat atau pun daerah yang mempercayai mitos tersebut. Salah satu tradisi yang masih tetap dipertahankan adalah Tradisi Ngerebeg. Ratusan anak-anak hingga remaja dari 7 banjar adat mengikuti ritual upacara Ngerebeg, di Desa Pakraman Tegallalang, Gianyar, Bali. Ritual ini dilangsungkan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada "rahina budha kliwon pegat uwakan", sehari sebelum puncak karya piodalan di Pura Duur Bingin, Desa Adat Tegallalang yang jatuh setiap Wraspati, Umanis, Wuku Pahang. Ritual Ngerebeg ini merupakan tradisi yang diwarisi secara turun temurun dan selalu dilaksanakan karena ritual ini dilakukan untuk menyenangkan para wong samar penjaga desa, agar saat upacara Piodalan berlangsung, para wong samar atau dedemit ini ikut menjaga desa dan tidak mengganggu serta agar tidak terjadi bencana melanda desa setempat.

Ritual ini terbilang sangat unik, karena para peserta Ngerebeg menghiasi tubuh dan wajahnya menggunakan cat air, hingga coreng-moreng. Ada yang berpenampilan seperti anak-anak punk, ada pula menghiasi wajahnya layaknya hantu, yang menyeramkan. Dengan dandanan menyeramkan itu, mereka jalan kaki keliling desa, sambil membawa berbagai hiasan dan pelepah busung (janur) dan pelepah daun jaka (aren), juga lelontek, kober (bendera sakral), dan penjor. Semua itu sebagai simbol dari wong samar atau pun bhuta kala yang merupakan "rerencangan" (pasukan) Ida Bhatara Ratu Gede Duur Bingin. Sesuai tradisi yang diwariskan, kaum anak-anak dan remaja perempuan tidak ikut menghiasi tubuhnya dan melakukan ritual Ngerebeg.

Ritual ini diawali dengan menghaturkan sesaji berupa pica gede dan pica alit (makan siang) kepada seluruh peserta di halaman Pura Duur Bingin. Pada saat proses awal makan bersama, peserta Ngerebeg diyakini sudah kerasukan karena dilihat dari cara makan peserta dan porsi makanan yang sangat banyak. Setelah proses makan selesai para peserta Ngerebeg berjalan kaki dari Jaba Pura Duur Bingin, kemudian mengelilingi desa dengan menempuh jarak kurang lebih 2 – 3 km sambil berteriak-teriak menirukan suara setan atau sebangsa wong samar.
            Ritual Ngerebeg jelang puncak karya piodalan di Pura Duur Bingin ini juga dipercaya sebagai upaya untuk menetralkan sifat negatif manusia yang disebut Sad Ripu, yakni enam musuh yang ada di dalam diri manusia yang harus dinetralkan. Jadi anak – anak dan remaja yang memakai hiasan warna warni dan topeng menyeramkan adalah perwujudan / simbolis dari hal – hal negatif (wong samar) yang nantinya di somya (berikan persembahan) agar kita bisa hidup berdampingan dan tidak saling mengganggu. Tradisi Ngerebeg perlu dipertahankan, karena tradisi ini merupakan salah satu warisan budaya leluhur desa Tegallalang yang merupakan aset budaya desa Tegallalang dan sudah menjadi ciri kas desa tegallalang. Jadi sudah sepantasnya tradisi ini harus tetap dipertahankan dan dilestarikan.

·      Latar Belakang :

Pelaksanaan tradisi Ngerebeg sudah diterima secara turun-temurun oleh masyarakat desa pakraman Tegallalang dan sampai sekarang masih tetap dipertahankan. Tradisi ini sampai sekarang masih dipertahan dan dilaksanakan karena adanya kepercayaan dari para masyarakat jika tidak dilaksanakan akan terjadi suatu bencana yang melanda desa. Pelaksanaan tradisi Ngerebeg yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-13 sesuai dengan kedatangan Tjokorda Ketut Segara ke desa Tegallalang, maka tradisi ini tidak berani dihilangkan atau pun di hapus oleh masyarakat setempat, justru berdasarkan hal tersebut selanjutnya tradisi ini malah dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat setempat sehingga seluruh masyarakat desa pakraman Tegallalang ikut serta dalam tradisi Ngerebeg, tidak cuma anak-anak tetapi juga orang dewasa ikut dalam keberlangsungan proses jalannya tradisi ngerebeg dari awal mulai hingga selesai.
·      Permasalahan :
            Permasalahan yang dialami dalam tradisi ini yaitu pada saat tradisi Ngerebeg dimulai menyebabkan kemacetan di jalan sekitaran Tegallalang karena iring-iringan peserta Ngerebeg yang berjalan kaki mengelilingi Desa Tegallalang.
·      Tujuan :
            Tujuan dari diadakannya tradisi Ngerebeg yaitu untuk melestarikan warisan dan budaya yang telah ada sejak dulu dan salah satunya untuk menetralkan sifat negatif manusia yang disebut dengan Sad Ripu dan betujuan untuk membersihkan pikiran dalam Bhuwana Alit ( tubuh manusia ) dan Bhuwana Agung ( alam semesta )secara niskala.
·      Evolusi dalam Marketing Tourism :
1.      Sustanaible Tourism Development
Merupakan sebuah pendekatan marketing yang fokus dalam menciptakan kepuasan konsumen berdasarkan kebutuhan dan keinginan konsumen dengan tetap memperhatikan tanggung jawab jangka panjang terhadap lingkungan wisata. Jadi, yang perlu dilakukan seperti partisipasi masyarakat dan keikutsertaan pemerintah dalam memberikan pelayanan terhadap wisatawan yang ingin menyaksikan tradisi Ngerebeg ini dan diharapkan masyarakat tetap mempertahankan dan melestarikan tradisi ini sehingga tradisi Ngerebeg semakin dikenal wisatawan mancanegara.
2.      Societal Marketing Orientation
Merupakan adanya kesadaran dari perusahaan untuk melakukan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat atau komunitas lokal sebagai bagian dalam industri pariwisata, seperti di Tegallalang banyak terdapat agrowisata disini pemilik maupun pengurus agrowisata dapat memberikan bantuan dana kepada masyarakat Tegallalang seperti medana punia untuk piodalan di Pura Duur Bingin dan memberikan penghargaan berupa materi dan non materi kepada anak-anak dan remaja yang hiasannya paling seram dan menarik yang mengikuti tradisi Ngerebeg sehingga mereka semakin antusias dan tetap berpartisipasi dalam tradisi yang unik ini.