Bali
merupakan daerah yang tidak bisa dilepaskan dari suatu keyakinan dan
kepercayaan serta tradisi-tradisi yang dianggap suatu mitos bagi masyarakat
atau pun daerah yang mempercayai mitos tersebut. Salah satu tradisi yang masih
tetap dipertahankan adalah Tradisi Ngerebeg. Ratusan anak-anak hingga remaja dari 7 banjar adat mengikuti
ritual upacara Ngerebeg, di Desa Pakraman Tegallalang, Gianyar, Bali. Ritual
ini dilangsungkan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada "rahina budha
kliwon pegat uwakan", sehari sebelum puncak karya piodalan di Pura Duur
Bingin, Desa Adat Tegallalang yang jatuh setiap Wraspati, Umanis, Wuku Pahang.
Ritual Ngerebeg ini merupakan tradisi yang diwarisi secara turun temurun dan
selalu dilaksanakan karena ritual ini dilakukan untuk
menyenangkan para wong samar penjaga desa, agar saat upacara Piodalan
berlangsung, para wong samar atau dedemit ini ikut menjaga desa dan tidak
mengganggu serta agar tidak terjadi
bencana melanda desa setempat.
Ritual ini terbilang sangat unik,
karena para peserta Ngerebeg menghiasi tubuh dan wajahnya menggunakan cat air,
hingga coreng-moreng. Ada yang berpenampilan seperti anak-anak punk, ada pula
menghiasi wajahnya layaknya hantu, yang menyeramkan. Dengan dandanan
menyeramkan itu, mereka jalan kaki keliling desa, sambil membawa berbagai
hiasan dan pelepah busung (janur) dan pelepah daun jaka (aren), juga lelontek,
kober (bendera sakral), dan penjor. Semua itu sebagai simbol dari wong samar
atau pun bhuta kala yang merupakan "rerencangan" (pasukan) Ida
Bhatara Ratu Gede Duur Bingin. Sesuai tradisi yang diwariskan, kaum anak-anak
dan remaja perempuan tidak ikut menghiasi tubuhnya dan melakukan ritual
Ngerebeg.
Ritual
ini diawali dengan menghaturkan sesaji berupa pica gede dan pica alit (makan
siang) kepada seluruh peserta di halaman Pura Duur Bingin.
Pada saat proses awal makan bersama, peserta Ngerebeg diyakini sudah kerasukan
karena dilihat dari cara makan peserta dan porsi makanan yang sangat banyak. Setelah
proses makan selesai para peserta Ngerebeg berjalan kaki dari Jaba Pura Duur Bingin, kemudian
mengelilingi desa dengan menempuh jarak kurang lebih 2 – 3 km sambil
berteriak-teriak menirukan suara setan atau sebangsa wong samar.
Ritual Ngerebeg jelang puncak karya piodalan di Pura Duur
Bingin ini juga dipercaya sebagai upaya untuk menetralkan sifat negatif manusia
yang disebut Sad Ripu, yakni enam musuh yang ada di dalam diri manusia yang
harus dinetralkan. Jadi anak – anak dan remaja yang memakai
hiasan warna warni dan topeng menyeramkan adalah perwujudan / simbolis dari hal
– hal negatif (wong samar) yang nantinya di somya (berikan persembahan) agar
kita bisa hidup berdampingan dan tidak saling mengganggu. Tradisi Ngerebeg perlu
dipertahankan, karena tradisi ini merupakan salah satu warisan budaya leluhur
desa Tegallalang yang merupakan aset budaya desa Tegallalang dan sudah menjadi
ciri kas desa tegallalang. Jadi sudah sepantasnya tradisi ini harus tetap
dipertahankan dan dilestarikan.
·
Latar Belakang :
Pelaksanaan
tradisi Ngerebeg sudah diterima secara turun-temurun oleh masyarakat desa pakraman
Tegallalang dan sampai sekarang masih tetap dipertahankan. Tradisi ini sampai sekarang masih dipertahan
dan dilaksanakan karena adanya kepercayaan dari para masyarakat jika tidak
dilaksanakan akan terjadi suatu bencana yang melanda desa. Pelaksanaan tradisi Ngerebeg yang
diperkirakan telah ada sejak abad ke-13 sesuai dengan kedatangan Tjokorda Ketut Segara ke desa Tegallalang,
maka tradisi ini tidak berani dihilangkan atau pun di hapus oleh masyarakat
setempat, justru berdasarkan hal tersebut selanjutnya tradisi ini malah
dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat setempat sehingga seluruh
masyarakat desa pakraman Tegallalang ikut serta dalam tradisi Ngerebeg, tidak
cuma anak-anak tetapi juga orang dewasa ikut dalam keberlangsungan proses
jalannya tradisi ngerebeg dari awal mulai hingga selesai.
·
Permasalahan :
Permasalahan yang dialami dalam
tradisi ini yaitu pada saat tradisi Ngerebeg dimulai menyebabkan kemacetan di
jalan sekitaran Tegallalang karena iring-iringan peserta Ngerebeg yang berjalan
kaki mengelilingi Desa Tegallalang.
·
Tujuan :
Tujuan dari diadakannya tradisi
Ngerebeg yaitu untuk melestarikan warisan dan budaya yang telah ada sejak dulu
dan salah satunya untuk menetralkan sifat negatif manusia yang disebut dengan
Sad Ripu dan betujuan untuk membersihkan pikiran dalam Bhuwana Alit ( tubuh
manusia ) dan Bhuwana Agung ( alam semesta )secara niskala.
· Evolusi dalam Marketing Tourism :
1. Sustanaible Tourism Development
Merupakan
sebuah pendekatan marketing yang fokus dalam menciptakan kepuasan konsumen berdasarkan
kebutuhan dan keinginan konsumen dengan tetap memperhatikan tanggung jawab jangka
panjang terhadap lingkungan wisata. Jadi, yang perlu dilakukan seperti partisipasi
masyarakat dan keikutsertaan pemerintah dalam memberikan pelayanan terhadap
wisatawan yang ingin menyaksikan tradisi Ngerebeg ini dan diharapkan masyarakat
tetap mempertahankan dan melestarikan tradisi ini sehingga tradisi Ngerebeg
semakin dikenal wisatawan mancanegara.
2. Societal Marketing Orientation
Merupakan
adanya kesadaran dari perusahaan untuk melakukan tanggung jawab sosial terhadap
masyarakat atau komunitas lokal sebagai bagian dalam industri pariwisata,
seperti di Tegallalang banyak terdapat agrowisata disini pemilik maupun pengurus
agrowisata dapat memberikan bantuan dana kepada masyarakat Tegallalang seperti
medana punia untuk piodalan di Pura Duur Bingin dan memberikan penghargaan
berupa materi dan non materi kepada anak-anak dan remaja yang hiasannya paling
seram dan menarik yang mengikuti tradisi Ngerebeg sehingga mereka semakin
antusias dan tetap berpartisipasi dalam tradisi yang unik ini.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar